Tulisan ini bukan tentang satu nama, satu jabatan, atau satu tempat. Ia adalah suara dari banyak ruang kerja yang tampak tenang dari luar, tetapi menyimpan begitu banyak keluhan di dalam. Suara orang-orang yang tetap datang, tetap melayani, dan tetap menyelesaikan pekerjaannya—meskipun perlahan merasa tidak lagi dipandang sebagai bagian dari keluarga yang sama.
Kami tidak meminta kemewahan
Kami hanya menghendaki tempat bekerja yang nyaman, tertib, adil, dan manusiawi. Tempat di mana prestasi tidak harus diraih dengan menyikut; kesempatan tidak hanya berputar di lingkaran tertentu; dan kesejahteraan tidak berhenti pada mereka yang berada paling dekat dengan sumbernya.
Namun hidup membawa banyak tuntutan. Kebutuhan rumah tangga bertambah, gaya hidup semakin menggoda, dan ukuran keberhasilan sering bergeser menjadi apa yang terlihat di tangan. Ketika keinginan melampaui kemampuan, manusia mudah tergoda mencari lebih banyak bagian—bahkan dari sesuatu yang seharusnya mengalir untuk banyak orang.
Sekarang makan dari utang.”Sebuah kalimat sederhana tentang keadaan yang tidak lagi sederhana
Saat aliran berhenti di atas
Masalahnya bukan semata-mata berkurangnya bingkisan, parcel, atau acara makan bersama. Yang sesungguhnya hilang adalah rasa diperhatikan. Dahulu, kebahagiaan sederhana dapat turun sampai kepada dosen, staf, dan OB. Tidak semuanya besar, tetapi semua memperoleh bagian. Orang bekerja bukan hanya karena kewajiban, melainkan karena merasakan kebersamaan.
Sekarang, ada yang menggambarkannya seperti air yang telah diperas habis di atas. Mereka yang berada di bawah menadahkan wadah dengan sabar. Menunggu satu tetes. Menunggu lebih lama. Namun benda yang terus diperas itu telah begitu kering sehingga setetes pun belum tentu sampai.
Yang paling menyakitkan bukan ketika bagiannya sedikit, melainkan ketika seseorang merasa tidak lagi dihitung.
Kenangan tentang masa yang hangat
Ada masa yang masih disebut dengan rasa rindu: masa ketika kebersamaan tidak berhenti sebagai slogan. Saat hari raya, perhatian sampai kepada mereka yang bekerja di garis depan maupun di balik layar. Pada akhir tahun, ada bingkisan sederhana. Sesekali semua duduk dan makan bersama. Yang bekerja dan yang memimpin dapat merasakan kegembiraan dalam ruang yang sama.
Bukan nilai barangnya yang terus dikenang. Rasa menjadi bagianlah yang membuat masa itu terasa “enak”. Sebuah organisasi dapat kehilangan kehangatan bukan karena kekurangan harta, tetapi karena berhentinya perhatian mengalir.
Hedonisme selalu meminta lebih
Gaya hidup yang dibangun untuk mengejar pengakuan tidak pernah mengenal kata cukup. Hari ini satu barang terlihat istimewa; besok sudah muncul barang baru yang dianggap lebih tinggi. Bila harga diri digantungkan pada kemewahan, jalan yang halal terasa lambat, sedangkan jalan pintas tampak menggoda.
Karena itu tulisan ini pertama-tama adalah pengingat bagi diri sendiri. Jangan sampai tuntutan keluarga, lingkungan, atau gengsi membuat kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Jangan sampai demi terlihat berkelimpahan, kita mengeringkan sumber yang seharusnya menghidupi banyak orang. Tidak semua yang bisa diambil layak diambil; tidak semua yang tersembunyi dari manusia akan tersembunyi dari Tuhan.
Memulihkan aliran
Perubahan tidak selalu harus dimulai dari anggaran yang besar. Ia dapat dimulai dengan keterbukaan, pembagian kesempatan yang wajar, penghargaan yang tidak pilih kasih, perhatian kepada pekerja lapisan bawah, serta keberanian pemimpin untuk bertanya: siapa yang belum merasakan manfaat dari keputusan kita?
Kepemimpinan bukan kemampuan mengumpulkan aliran ke satu wadah. Kepemimpinan adalah memastikan air tetap cukup untuk bergerak dari hulu hingga hilir. Sebab organisasi tidak menjadi kuat ketika beberapa orang kenyang, sementara banyak orang diam-diam menjerit.