Academic Quality Series007
Kualitas Manusia · Keadilan Organisasi · Ben Rahman

Setetes yang
Tak Sampai

Ketika yang di atas terus memeras, yang di bawah menunggu setetes. Semoga kebaikan kembali mengalir.

Baca refleksi ↓
Flyer reflektif: Yang di atas terus memeras, yang di bawah menunggu setetes. Semoga kebaikan kembali mengalir.
Ketika aliran berhenti di atas, mereka yang berada di bawah hanya dapat menunggu.

Tulisan ini bukan tentang satu nama, satu jabatan, atau satu tempat. Ia adalah suara dari banyak ruang kerja yang tampak tenang dari luar, tetapi menyimpan begitu banyak keluhan di dalam. Suara orang-orang yang tetap datang, tetap melayani, dan tetap menyelesaikan pekerjaannya—meskipun perlahan merasa tidak lagi dipandang sebagai bagian dari keluarga yang sama.

Kami tidak meminta kemewahan

Kami hanya menghendaki tempat bekerja yang nyaman, tertib, adil, dan manusiawi. Tempat di mana prestasi tidak harus diraih dengan menyikut; kesempatan tidak hanya berputar di lingkaran tertentu; dan kesejahteraan tidak berhenti pada mereka yang berada paling dekat dengan sumbernya.

Namun hidup membawa banyak tuntutan. Kebutuhan rumah tangga bertambah, gaya hidup semakin menggoda, dan ukuran keberhasilan sering bergeser menjadi apa yang terlihat di tangan. Ketika keinginan melampaui kemampuan, manusia mudah tergoda mencari lebih banyak bagian—bahkan dari sesuatu yang seharusnya mengalir untuk banyak orang.

“Dulu makan dari tabungan.
Sekarang makan dari utang.”Sebuah kalimat sederhana tentang keadaan yang tidak lagi sederhana

Saat aliran berhenti di atas

Masalahnya bukan semata-mata berkurangnya bingkisan, parcel, atau acara makan bersama. Yang sesungguhnya hilang adalah rasa diperhatikan. Dahulu, kebahagiaan sederhana dapat turun sampai kepada dosen, staf, dan OB. Tidak semuanya besar, tetapi semua memperoleh bagian. Orang bekerja bukan hanya karena kewajiban, melainkan karena merasakan kebersamaan.

Sekarang, ada yang menggambarkannya seperti air yang telah diperas habis di atas. Mereka yang berada di bawah menadahkan wadah dengan sabar. Menunggu satu tetes. Menunggu lebih lama. Namun benda yang terus diperas itu telah begitu kering sehingga setetes pun belum tentu sampai.

Dosen“Kami ingin karya dan kontribusi dinilai dengan adil, bukan dikalahkan oleh kedekatan.”
Staf“Kami ingin kerja yang sunyi tetap terlihat dan dihargai.”
OB“Kami membersihkan ruang semua orang; jangan biarkan kehidupan kami menjadi bagian yang terlupakan.”
Yang paling menyakitkan bukan ketika bagiannya sedikit, melainkan ketika seseorang merasa tidak lagi dihitung.

Kenangan tentang masa yang hangat

Ada masa yang masih disebut dengan rasa rindu: masa ketika kebersamaan tidak berhenti sebagai slogan. Saat hari raya, perhatian sampai kepada mereka yang bekerja di garis depan maupun di balik layar. Pada akhir tahun, ada bingkisan sederhana. Sesekali semua duduk dan makan bersama. Yang bekerja dan yang memimpin dapat merasakan kegembiraan dalam ruang yang sama.

Bukan nilai barangnya yang terus dikenang. Rasa menjadi bagianlah yang membuat masa itu terasa “enak”. Sebuah organisasi dapat kehilangan kehangatan bukan karena kekurangan harta, tetapi karena berhentinya perhatian mengalir.

Hedonisme selalu meminta lebih

Gaya hidup yang dibangun untuk mengejar pengakuan tidak pernah mengenal kata cukup. Hari ini satu barang terlihat istimewa; besok sudah muncul barang baru yang dianggap lebih tinggi. Bila harga diri digantungkan pada kemewahan, jalan yang halal terasa lambat, sedangkan jalan pintas tampak menggoda.

Karena itu tulisan ini pertama-tama adalah pengingat bagi diri sendiri. Jangan sampai tuntutan keluarga, lingkungan, atau gengsi membuat kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Jangan sampai demi terlihat berkelimpahan, kita mengeringkan sumber yang seharusnya menghidupi banyak orang. Tidak semua yang bisa diambil layak diambil; tidak semua yang tersembunyi dari manusia akan tersembunyi dari Tuhan.

Memulihkan aliran

Perubahan tidak selalu harus dimulai dari anggaran yang besar. Ia dapat dimulai dengan keterbukaan, pembagian kesempatan yang wajar, penghargaan yang tidak pilih kasih, perhatian kepada pekerja lapisan bawah, serta keberanian pemimpin untuk bertanya: siapa yang belum merasakan manfaat dari keputusan kita?

Kepemimpinan bukan kemampuan mengumpulkan aliran ke satu wadah. Kepemimpinan adalah memastikan air tetap cukup untuk bergerak dari hulu hingga hilir. Sebab organisasi tidak menjadi kuat ketika beberapa orang kenyang, sementara banyak orang diam-diam menjerit.

Doa dari bawah

Ya Allah, lembutkan hati kami. Jauhkan kami dari keserakahan, sikat-sikut, dan kehidupan yang hanya mengejar kemewahan. Ajarkan kami merasa cukup atas yang halal dan berani menolak yang bukan hak.

Kembalikan keadilan, kepedulian, serta kebahagiaan yang dapat dirasakan bersama. Bukakan jalan bagi suara yang lama tertahan. Jadikan tempat kami bekerja sebagai ruang yang memuliakan manusia—dari mereka yang memimpin hingga mereka yang setiap hari membersihkan lantai.

Sebuah lingkungan tidak menjadi besar karena segelintir orang hidup berkelimpahan. Ia menjadi besar ketika kebaikan mengalir sampai kepada mereka yang paling bawah.

Catatan: tulisan ini merupakan refleksi sosial dan moral yang bersifat umum. Tidak ditujukan untuk menuduh individu atau institusi tertentu, melainkan untuk mengajak kita semua menjaga keadilan, kepedulian, dan martabat dalam lingkungan kerja.