Dahulu, ketika dua orang berpapasan, sebuah senyuman, anggukan kepala, atau ucapan sederhana seperti “selamat pagi” terasa sebagai sesuatu yang wajar. Tidak diperlukan hubungan dekat, kepentingan tertentu, ataupun jabatan yang setara. Menyapa adalah bentuk paling sederhana dari pengakuan bahwa orang lain hadir sebagai manusia.
Kini, pemandangan itu perlahan berubah.
Di lorong tempat kerja, seseorang dapat berjalan biasa, tetapi ketika berpapasan dengan orang tertentu, pandangannya mendadak berpindah ke layar telepon. Ada pula yang mengalihkan wajah, mempercepat langkah, atau seolah-olah tidak melihat. Dalam pertemuan sosial, seseorang mungkin bersalaman, tetapi perhatian dan percakapannya hanya diberikan kepada kelompok yang sudah dikenalnya.
Kejadian semacam ini terlihat kecil. Namun, sesuatu yang kecil dan terus berulang dapat membentuk suasana organisasi.
Kita Tidak Selalu Mengetahui Alasannya
Tidak tepat apabila setiap orang yang tidak menyapa langsung dianggap sombong, membenci, atau memiliki maksud buruk. Bisa saja ia sedang memikirkan pekerjaan, menghadapi masalah pribadi, merasa canggung, atau tidak mengetahui cara memulai percakapan.
Karena itu, tulisan ini bukan upaya membaca niat seseorang.
Yang perlu diperhatikan adalah dampak sosial dari perilaku tersebut. Ketika penghindaran menjadi kebiasaan, orang lain dapat merasa tidak terlihat, tidak diterima, atau hanya dihargai ketika memiliki kepentingan tertentu.
Dalam organisasi akademik, keadaan ini perlu direnungkan. Perguruan tinggi mengajarkan ilmu pengetahuan, etika, kepemimpinan, dan peradaban. Namun, seluruh nilai besar itu kehilangan makna apabila penghargaan paling sederhana terhadap sesama justru semakin menghilang.
Apakah Kita Hanya Menghargai Orang yang Kita Perlukan?
Jika keramahan hanya diberikan kepada pimpinan, kolega dekat, anggota kelompok, atau orang yang dapat membantu kepentingan kita, keramahan tersebut telah berubah menjadi transaksi sosial.
Penghormatan yang autentik tidak bergantung pada jabatan. Petugas kebersihan, tenaga administrasi, mahasiswa, dosen, pimpinan, dan setiap orang yang bekerja di dalam organisasi memiliki martabat kemanusiaan yang sama.
Cara kita memperlakukan orang yang tidak mempunyai kekuasaan atas diri kita justru memperlihatkan kualitas karakter yang sebenarnya.
Kesukaan dan Ketidaksukaan Itu Lumrah
Dalam kehidupan, ada orang yang menyukai kita dan ada pula yang tidak. Hal tersebut lumrah. Kita tidak mungkin memaksa semua orang menjadi dekat, menyetujui pemikiran kita, atau menikmati kehadiran kita.
Namun, tidak menyukai seseorang tidak harus menghilangkan kesantunan.
Kedekatan adalah pilihan,
tetapi penghormatan merupakan tanggung jawab.
Kita tidak harus menjadi sahabat untuk dapat mengucapkan salam. Kita tidak perlu menyetujui seluruh pandangan seseorang untuk tetap memperlakukannya dengan baik. Perbedaan pribadi tidak seharusnya menghapus adab profesional.
Pertemuan Sosial Bukan Sekadar Seremoni
Halal bihalal dan pertemuan sosial seharusnya menjadi ruang untuk merawat kembali hubungan yang mungkin renggang. Bersalaman bukan hanya ritual fisik, melainkan simbol bahwa kita bersedia melihat, mendengar, dan menerima keberadaan orang lain.
Apabila setelah bersalaman seseorang kembali hanya berbicara dengan kelompoknya sendiri, sementara orang lain dibiarkan berdiri tanpa ruang untuk bergabung, tujuan sosial dari pertemuan tersebut belum sepenuhnya tercapai. Seseorang dapat berada di tengah keramaian, tetapi tetap merasa sendirian.
Inilah mengapa kualitas sebuah acara tidak hanya ditentukan oleh susunan acara, konsumsi, dokumentasi, atau jumlah peserta. Kualitasnya juga terlihat dari apakah setiap orang merasa disambut dan diperlakukan sebagai bagian dari komunitas.
Solusinya Dimulai dari Diri Sendiri
Kita tidak dapat mengendalikan apakah orang lain akan menyapa, menoleh, atau membalas keramahan kita. Namun, kita tetap dapat memilih standar perilaku kita sendiri.
- Tetap menyapa dengan tulus tanpa menuntut balasan.
- Memberikan perhatian yang sama kepada siapa pun, tanpa membedakan jabatan.
- Tidak langsung menyimpulkan motif orang lain.
- Membuka ruang percakapan bagi orang yang terlihat sendirian.
- Tidak menjadikan keramahan sebagai alat untuk memperoleh kepentingan.
- Menjaga batas yang sehat apabila penghindaran atau perlakuan dingin terus berulang.
- Tetap beradab tanpa harus mengejar penerimaan semua orang.
Menjaga adab bukan berarti membiarkan diri terus-menerus terluka. Kita dapat tetap santun sambil menerima bahwa tidak semua orang ingin membangun hubungan dengan kedekatan yang sama.
Solusi pada Tingkat Organisasi
Lingkungan akademik juga perlu membangun budaya interaksi yang lebih manusiawi. Hal ini dapat dilakukan melalui keteladanan pimpinan, forum lintas kelompok, pertemuan yang inklusif, serta kebiasaan menyambut pegawai atau kolega baru.
Ketika seorang pemimpin hanya memberikan perhatian kepada lingkaran terdekatnya, pola tersebut dapat ditiru oleh anggota organisasi. Sebaliknya, ketika pimpinan menyapa petugas kebersihan, tenaga administrasi, mahasiswa, dan dosen dengan penghargaan yang sama, ia sedang membangun pendidikan karakter melalui tindakan.
Budaya organisasi tidak hanya terbentuk melalui peraturan tertulis. Budaya juga terbentuk melalui tatapan mata, cara menyapa, kesediaan mendengar, dan siapa saja yang kita ajak masuk ke dalam percakapan.
Jangan Biarkan Dunia Mengubah Kebaikan Kita
Mungkin dunia memang sedang berubah. Telepon genggam semakin sering menjadi tempat berlindung dari interaksi. Kelompok sosial semakin tertutup, hubungan semakin transaksional, dan perhatian manusia semakin mudah dibatasi oleh kepentingan.
Namun, perubahan tersebut tidak harus membuat kita ikut kehilangan rasa.
Jika orang lain tidak menyapa, kita tetap dapat menyapa. Jika orang lain membedakan manusia berdasarkan jabatan, kita tetap dapat memperlakukan semuanya secara setara. Jika keramahan semakin langka, justru kita harus menjaganya agar tidak benar-benar hilang.
Sebab kualitas akademik bukan hanya terlihat dari publikasi, akreditasi, jabatan fungsional, atau gelar yang dimiliki. Kualitas akademik juga terlihat dari cara manusia memperlakukan manusia lainnya.
Kita tidak dapat menentukan sikap orang lain. Kita hanya dapat memastikan bahwa dinginnya dunia tidak mengambil keramahan dari diri kita.
Namun, kita dapat memilih untuk tetap menghormati semua orang.”